SEJARAH SITUS WANA WISATA DAN CAGAR BUDAYA GUNUNG LAYANG
SITUS CAGAR BUDAYA GUNUNG LAYANG
PENGGALAN SEJARAH KERAJAAN GALUH SEBAGAI WILAYAH
ADMINISTRATIF KEKUASAAN KERAJAAN MATARAM
Disadur oleh ; Mbah Sentul
Galuh
pertama kali jatuh kedalam kekuasaan Mataram pada masa pemerintahan Prabu
Sanghyang Cipta ketika Mataram diperintah oleh Sutawijaya yang berkuasa dari
tahun (1586 -1601) dibawah wilayah administrasi Kesultanan Cirebon, hal ini
berdasarkan kekerabatan antara penguasa Cirebon dengan penguasa Mataram.
Setelah
Pabu Sangyang Cipta meninggal penguasa Galuh diteruskan oleh putranya yang
bernama Ujang Ngekel yang bergelar Prabu Galuh Cipta Premana (1610-1618) yang
berkedudukan di Garatengah. Prabu Galuh Cipta Premana merupakan penguasa Galuh
pertama yang memeluk Agama Islam setelah menikah dengan penguasa Kawali
keturunan Cirebon yang bernama Ni Mas Tanduran Di Anjung, sehingga hubungan
Galuh-Cirebon-Mataram berjalan dengan baik.
Pengaruh
Mataram di Galuh mulai menonjol pada masa pemerintahan Galuh oleh Adipati
Panaekan putra dari Prabu Galuh Cipta Premana, dan Mataram dibawah Kekuasaan
Raden Mas Jatnika yang bergelar Sunan Agung Hanyakrakusuma yang kemudian
bergelar Sultan Agung Abdulah Muhammad Maulana Mataram atau yang dikenal
sebagai Sultan Agung Martakusuma dengan sebutan Sultan Agung (1613-1645).
Sebagaimana
umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua prameswari utama yaitu
Prameswari Ratu Kulon putri Sultan Cirebon dan Ratu Wetan putri Adipati Batang.
Secara politis dua prameswari tersebut merupakan perkuatan kekuasaan Mataram di
Pulau Jawa bagian barat dan Jawa bagian timur.
Pada
masa penguasa Galuh yaitu Adiati
Panaekan dirasakan oleh Mataram kurang berkenan dan senantiasa berbeda
pendapat, berbeda dengan penaklukan Kerajaan Sumedang Larang yang memiliki
kekerabatan antara Raden Aria Suradiwangsa dengan Sultan Agung dari Ratu Kulon
sehingga untuk Galuh perlu pengawasan khusus dan pemecahan kekuasaan Galuh
menjadi 5 (lima) Keadiapatian yakni ; Galuh, Cibatu, Utama, Bojonglopang Kertabumi,
dan Imbanagara. Puncaknya terjadi tahun
1625 ketika para petinggi Kerajaan Mataram melalui bantuan para petinggi
Pasundan merencanakan penyerangan ke Batavia pada tahun 1628, dalam rembukan
itu terjadi perselisihan antara Adipati Panaekan sebagai Adipati Galuh dengan
sepupunya Adipati Kertabumi sebagai Bupati Bojonglopang Putra Dimuntur. Setelah
rembukan Adipati Panaekan Terbunuh dan jasadnya dihayutkan di Sungai Cimuntur
dan ditemukan di Patimuan tanpa kepala, kemungkinan kepala Adipati Panaekan
dijadikan bukti kepada Sultan Agung. Kekuasaan Galuh diteruskan oleh putranya
Dimas Imbanagara dan menyatukan wilayah keadiapatian di Imbanagara.
Sebagai
langkah pengawasan Mataram terhadap Galuh maka diperlukan wilayah pusat
pengawasan yang strategis dan terjaga kerahasiaannya sebagai sentra informasi
yang terlindungi. Maka ditetapkan sebuah bukit tertinggi di atas Kampung
Garatengah yang disebut Gunung Layang dan penguasa Mataram menempatkan sepupu perempuan
Ratu Kulon dari Cirebon yang bernama Mbok Agung Layangsari Bersama Ni Mas Tanduran Dianjung
untuk menemaninya agar dapat diterima oleh
masyarakat Galuh dan tidak
kentaranya spionase kepada setiap pecahan Wilayah
Galuh.
Penamaan
bukit tersebut dimungkinkan oleh nama orang yang menempati bukit tersebut dan
arti kata layang dalam arti bahasa Sunda setempat yang memiliki makna ; pasuratan,
yaitu sebuah informasi berbentuk tulisan pada media kulit binatang yang
digulungkan dari atas dan dari bawah oleh dua batang kayu menjadi dua gulungan
yang menjadi satu. (oral story ; Ki Sumardi, 1986).
Pada Bulan
April tahun 1628, Para Prajurit Mataram beserta koalisi persemakmurannya yaitu Pasukan
Galuh dipimpin oleh Tubagus Sutapura, Pasukan Sumedang Larang dipimpin oleh Dipati
Ukur tiba di Batavia, Bulan Agustus Pasukan Kendal dipimpin oleh Tumenggung
Bahureksa melalui armada maritim sebanyak 90 kapal perang beserta 7.000 orang
prajurit juga membawa 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 kelapa dan
12.000 karung beras ke dermaga pelabuhan Batavia sebagai dalih untuk berdagang
dengan VOC. Bulan Oktober tiba Pasukan Mataram sebanyak 10.000 orang yang
dipimpin oleh Pangeran Mandurareja melalui rute perjalanan
Kutagede-Bayumas-Mergosari-Gunung Layang-Talaga-Subang-Karawang-Matraman.
Pada Bulan
Desember, terjadilah perang besar antara Pasukan koalisi Mataram dengan tentara
VOC yang dibantu oleh Landvach (tentara bangsa pribumi) dari Ambon, pasukan
koalisi Mataram dipukul mundur akibat kekurangan perbekalan dan lemahnya fisik
prajurit akibat serangan malaria. Pasukan koalisi Mataram mundur dan melarikan
diri ke arah timur. Dalam pelarian pasukan Galuh dan Sumdang Larang tidak
terlalu kesulitan berbeda dengan pasukan maritim Tumenggung Bahureksa yang
tidak menguasai medan. Maka sisa pasukan maritim dan sisa pasukan Pangeran
Mandurareja bertahan disebrang Sungai Karawang sembari menunggu bantuan.
Menanggapi
kekalahan ini Sultan Agung marah besar terhadap Tumenggung Bahureksa dan kepada
Pangeran Mandurareja, pada bulan itu juga Sultan Agung mengirim pasukan algojo
untuk menghukum pancung keduanya, setelah itu pihak VOC melakukan penyisiran
dan menemukan 744 orang prajurit jawa berserakan tanpa kepala serta pihaknya
tidak merasa melakukan pembunuhan kejam itu.
Berita
tersebut sampai kepada Tubagus Sutapura bersama adipati lainnya termasuk kepada
Adipati Ukur yang mendapat tugas khusus untuk melawan VOC dari Sultan Agung,
sehingga Adipati Ukur memilih untuk memberontak terhadap Sultan Agung,
pemberontakan tersebut berlangsung dari tahun 1628 s.d. 1632 yang berakhir
dihukum pancungnya Adipati Ukur bersama Adipati Imbanagara di Sindangkasih yang
dianggap membela Sumedang Larang.
Beberapa
senapati pasukan koalisi Mataram yang terdiri dari pasukan Galuh, Sumedang
Larang, Pasukan Kendal, Pasukan Cirebon, Pasukan Demak, Madura, Lumajang,
tentara Banten yang membelot kepada Tubagus Sutapura, dan dari Sabrang (sunda.red)
yang berarti dari luar Pulau Jawa tiba di Gunung Layang.
Seluruh
informasi sampai kepada Mbok Agung Layangsari, Tumenggung Bahureksa merupakan
Bupati Kendal trah Cirebon-Mataram, Pangeran Mandureja merupakan saudara sepupu
Sultan Agung, Adipati Ukur dan Adipati
Imbanagara merupakan trah Galuh-Cirebon, beliau sangatlah bersedih karena
ketamakan akan “takhta, harta dan wanita” telah menghalalkan darah saudara
sendiri dan melupakan persudaraan sesama muslim demi kekuasaan. Belau mengajak
mereka semua untuk bermukim disekitar Gunung Layang tidak kembali ke daerah
asal, dan beliau bersumpah untuk tetap bersamanya sampai akhir hayat serta
berjanji untuk melindunginya dari kekuasaan Mataram.
Refferensi :
1. Babad Tanah Jawi, terj. 2007, jogjakarta ; nara M.C. Rickleft, 1991, Indonesian modern history ; Gajahmada Univercity Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu Pogadaev, V. A. Sultan Agung (1591 - 1645). The Ruler of the Javanese Kingdom; Kris – the sacred weapon of Java; On the Pirates Ship. Istorichesky Leksikon. XVII vek (Historical Lexicon. XVII Century). Moscow: “Znanie”, 1998, p. 20 - 26. Sumardi Ki 1989, oral history , gunung layang ; juru kunci
Sukarno : Jasmerah, Jangan sekali kali melupakan sejarah
BalasHapusBangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah nya.
Desa Sukasari bangkit menggeliat bangun dari tidur nya yang lelap untuk menyongsong kehangatan sang matahari yang gilang gumilang Cahya nya yang muncul dibalik sudut Gunung Layang menginspirasi setiap karya warganya,...